Sabtu, Oktober 27, 2007

Aktivis dan Organisasi Kampus

Aktivis dan Organisasi Kampus

Berdasarkan ruang lingkupnya, ada dua jenis organisasi kampus, yaitu Internal yang merupakan organisasi dengan cakupan satu kampus seperti Himpunan mahasiswa dan Senat, dan eksternal yang berdiri di luar kampus tetapi mencakup banyak kampus seperti HMI.


Organisasi kampus sering dikaitkan keberadaannya dengan aktivis, dan sebaliknya aktivis pasti terkait organisasi kampus. aktivis juga sering digambarkan sebagai mahasiswa yang aktif diorganisasi tetapi berIPK rendah dari rata-rata. Sedangkan mahasiswa non-aktivis sering digambarkan dengan mahasiswa yang selalu berIPK baik, diatas rata-rata, tapi tak punya kepedulian dengan hal-hal diluar akademis.


Stereotip seperti ini tak sepenuhnya salah, kenyataannya memang banyak sekali contoh aktivis kampus yang berIPK jeblok, dan banyak sekali mahasiswa non-aktivis yang lulus cum laude. Yang paling rugi adalah mahasiswa yang bukan aktivis, tapi juga bukan mahasiswa berIPK tinggi...


Kalau kenyataannya jadi aktivis kampus merugikan perkuliahan seorang mahasiswa, kenapa tiap angkatan selalu ada yang jadi aktivis? Kenapa ditiap kampus selalu ada aktivis? Pastilah ada sesuatu dorongan dan manfaat yang membuat sebagian mahasiswa jadi aktivis.

Untuk mempermudah pembagiannya, tipe mahasiswa saya bagi dua sebagai berikut:

  1. Mahasiswa kuliahan

    Ini tipe mahasiswa yang hanya peduli kuliahnya. Semua kegiatannya di kampus hanya berhubungan dengan kuliah dan perkuliahan.

  2. Mahasiswa aktivis

    Sesuai namanya, mahasiswa aktivis adalah mahasiswa yang punya aktifitas selain kuliah dan perkuliahan. Kebanyakan orang hanya memasukkan para mahasiswa aktivis organisasi kampus saja yang disebut aktivis, dan merupakan sebutan keren. Dari definisi diatas semestinya cakupan aktivis ini sangat luas, mulai dari aktivis organisasi kampus, aktivis organisasi diluar kampus, aktivis yang suka aktifitas yang berhubungan dengan hobby seperti geng motor, aktivis yang suka aktifitas yang berhubungan dengan pemasukan seperti aktif mencari objekan baik sebagai pemasukan primer maupun sebagai pemasukan tertier setelah infus dari orangtua.

Sekarang jadi keliatan dan bisa diperkirakan latar belakang kenapa seorang mahasiswa bisa jadi aktivis:

  • Karena dulunya di SMA pernah jadi pengurus OSIS, jadi sudah biasa rapat dan mengurus rekan-rekannya.

  • Karena sohibnya atau gebetannya ikut suatu organisasi atau suatu kegiatan, jadinya latah ikut juga.

  • Berkumpul dengan orang-orang setipe, misal sama-sama suka nongkrong di kantin (aktivis kantin).

  • Ingin mendarmabaktikan ilmunya di masyarakat untuk kedjayaan bangsa....

  • Sarana mencari teman, soalnya yang rada-rada autis susah nyari sendiri.

  • Ingin mengembangkan kemampuan berorganisasi, manajemen waktu, kemampuan komunikasi dan interpersonal.

  • Ingin mengembangkan karakter pribadinya di lingkungan kampus yang relatif homogen dan "terproteksi" supaya siap saat diluar kampus yang lebih terbuka dan heterogen.

  • Sedang mencari downline untuk produk MLM atau lahan objekan baru..

  • Penyaluran dan pengembangan hobby.


Diluar pembagian tipe mahasiswa diatas, masih ada lagi pembagian menurut orientasi masa depan, sebagai berikut:

  1. Mahasiswa yang belum tahu orientasi masa depannya.

    Mahasiswa yang belum sadar orientasi masa depannya biasanya pasrah mengikuti sks dan perkuliahan dengan tekun, memilih kuliah pilihan berdasarkan banyaknya teman karibnya yang ngambil dan cakep tidaknya dosen yang mengajar, memilih topik kerja praktek atau pun tugas akhir berdasarkan ada tidaknya model yang bisa ditiru serta gampang dikerjakan.

  2. Mahasiswa yang sadar orientasi masa depannya

    Mahasiswa yang sadar orientasi masa depannya adalah mahasiswa yang secara psikologi sudah dewasa, sadar akan tujuan hidupnya, dan bisa memutuskan apa yang ingin dia raih kedepannya dengan resources dan peluang yang dia punyai. Jadi memilih kuliah pilihan, ikut kursus bahasa Mandarin, jadi asisten lab atau asisten mata kuliah, jadi pengurus himpunan, ataupun ikut klub tennis, topik tugas akhir, dll, semua itu dilakukan atas dasar anggapan akan mempunyai korelasi nantinya dengan apa yang ingin dia raih setelah tamat dari kampus.


Sesuai judul, perhatian kita khususkan ke organisasi kampus. Karakteristik umum organisasi kampus adalah sebagai berikut:

  1. Ruang lingkupnya kampus dengan anggota masih mahasiswa/mahasiswi (so pasti donk...).

  2. Bersandar pada kaderisasi. Pengkaderan adalah bagian penting dari penilaian keberhasilan suatu kepengurusan organisasi kampus. Keberhasilan suatu angkatan mengurus suatu organisasi kelihatan setelah angkatan setelahnya juga mampu menjalankan organisasi dengan baik.

  3. Kepengurusannya bergulir. Setiap angkatan selalu dapat tanggungjawab dan kesempatan mengurus organisasi kampus. Justru aneh kalau misalnya satu angkatan mengurus sampai lebih dari 1 periode.


Dari penjabaran diatas, apa perlunya jadi aktivis bagi seorang mahasiswa Teknik Industri?

Jika ini ditanyakan kepada saya, maka jawaban saya hanya satu:

Setiap mahasiswa teknik industri harus jadi aktivis!


Kenapa?

Di teknik industri kita belajar mengenai organisasi dan pengelolaannya. Mulai dari masalah teknis operasional sampai masalah strategisnya. Juga belajar tentang karakter entitas organisasi, mulai dari mesin, manusia, metode-metode, dan modal kapitalnya.

Lalu apa yang kurang? Prakteknya.

Belajar merasakan berbagai situasi-situasi dimana kita dituntut bertanggung jawab atas sesuatu, belajar bagaimana mengkoordinasikan diri sebagai anggota suatu tim ataupun sebagai pemimpin suatu tim, dengan tetap fokus pada target yang telah dibebankan, merupakan suatu hal yang tidak akan didapat dari ruang kuliah. Mendapatkan hal tersebut sebelum tamat kuliah merupakan suatu pengalaman berharga, suatu pematangan/pendewasaan dengan biaya lebih murah.

Kenapa lebih murah? Kesalahan dan kebodohan yang dilakukan dimasa kuliah biasanya tidak punya banyak efek finansial, hukum, dan lebih bersifat jangka pendek, karena lingkungan sekitar mahasiswa (dosen, manajemen kampus, masyarakat) menjadi lebih pemaaf untuk kebodohan-kebodohan tersebut, dan hampir tidak punya dampak pada kredibilitas anda.

Coba anda melakukan kebodohan fatal tersebut di tempat kerja, kalaupun efek hukum atau finansial kecil, kredibilitas anda sudah jatuh ke lantai....


Tadi disebutkan banyak sekali aktivis, aktivis yang mana?

Pada pembagian mahasiswa yang pertama dan yang kedua dapat kita lihat benang merahnya (sebenarnya saya lebih suka benang biru, tapi tak apalah..) bahwa aktivis dan kedewasaan itu sejalan. Dengan kata lain, jadi aktivis merupakan salah satu jalan untuk mengembangkan kedewasaan dan karakter. Tinggal kita memilih menekankan pada karakter apa yang ingin ditumbuhkembangkan, disitulah pilihan aktifitas yang relevan diambil.


Di negara-negara maju dari remaja mereka sudah terbiasa bekerja paruh waktu di berbagai bidang pekerjaan. Ini adalah hal positif, khususnya menyangkut pendewasaan dan pembentukan karakter tadi. Dengan bekerja, mereka sudah terbiasa sejak dini bertanggungjawab, mengembangkan kemampuan diri, mengatur waktu, mengatur keuangan pribadi, dan merencanakan masa depan.

Hal ini tampaknya masih sulit dilakukan di negara kita, kecuali sedikit rekan kita yang beruntung terlibat di bisnis orangtuanya sejak remaja.



Bagaimanapun, jadi aktivis bukanlah pembenaran untuk punya IPK rendah.


--
TR


3 komentar:

Anonim mengatakan...

Tulisan yang menarik, lugas dan enak dibaca.
Sedikit mengenai isi,
a.Terkadang ada juga mahasiswa yang merasa sudah tahu orientasi hidupnya sehingga dia berusaha agar bisa tamat sesegera mungkin dengan belajar tekun dan secara terang-terangan menganggap kegiatan di luar kuliah hanya buang-buang waktu saja.
b.Mungkin Teguh punya saran untuk mahasiswa yang ingin aktif tapi mempunyai keterbatasan, seperti mahasiswa yang pemalu (kayak saya he he... ), atau susah cari organisasi yang cocok, atau kapling organisasi yang cuma sedikit, jadi banyak yang cuman jadi anggota saja dan akhirnya cuman sebatas punya kartu anggota.
Sebab pada dasarnya manusia mempunyai sifat ingin diakui sebagai impiannya di tengah komunitasnya. Jadi untuk menjadi "aktivis" saya rasa impian hampir 100% mahasiswa.

Mohon maaf kalau ada kesalahan.

"Asfarizky"

inda mengatakan...

Jangan lupakan juga faktor X yang ada di lingkungan sekitar kita beraktivitas. Faktor X ini juga sangat mempengaruhi tingkah laku, tindakan, prinsip, orientasi, visi dan apapun namanya itu. Bisa jadi pada saat memasuki dunia perkuliahan, karakter apa yang ingin dibentuk oleh masing-masing individu belum 'fix'. Di situlah fungsi aktivitis itu ... mengarahkan bahkan memberi pilihan akan pembentukan karakter. Kenyataan bahwa aktivitis jauh lebih 'matang' di dunia kerja sudah banyak terbukti daripada individu yang terfokus pada perkuliahan saja. Keseimbangan akan muncul apabila karakter aktivitis juga didukung oleh prestasi di perkuliahan dan sebaliknya...

quantan mengatakan...

Untuk Yudis:
a. Saat kuliah mestinya masih banyak waktu untuk hal lain diluar perkuliahan. Kalau di luar negeri biasanya dimanfaatkan untuk kerja part time / paroh waktu. Kalau si Mahasiswa sudah merasa jelas orientasi hidupnya, kan bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang mendukung orientasi hidupnya tersebut. Ini jelas lebih baik daripada dihabiskan buat nongkrong apalagi bengong. :-D
b. Berkumpulnya orang-orang se-ide atau senasib bisa memunculkan solusi atas masalah seperti ini. Memang kadang organisasi kampus tidak berjalan cukup efektif sehingga kegiatannya tidak bisa menjangkau dan bermanfaat untuk semua mahasiswa.

Tambahan untuk Inda:
- IPK akan membantu dalam mendapatkan pekerjaan. Karakter, kematangan dan kedewasaan, kemampuan komunikasi dan intersonal akan membantu karir dalam pekerjaan.

baca juga:
http://quantan.blogspot.com/2005/11/tidak-satu-jalan-ke-padang.html

Itu sebabnya IPK (dan kemampuan akademis) dengan aktivis sama-sama penting.