Minggu, November 18, 2007

Kereta Api - Anak Tiri Transportasi Indonesia

Terus terang baru tahun 2007 ini saya akrab dengan kereta api, tepatnya KRL ekonomi, KRL ekonomi AC, KA Langsam diesel, dan KA Express. Terutama sejak beroperasinya jalur ganda Tanah Abang-Serpong yang membuat perjalanan ke pondok mertua indah di kawasan Pondok Aren jadi lebih mudah dan cepat. Sekarang boleh dibilang hampir tiap hari kerja naik KA, minimal waktu pulang kerja.

Sebelumnya naik KA sama sekali tidak menyisakan sesuatu yang berkesan selain kekacauan, ketidakdisiplinan, ketidaknyamanan, dan ketidakamanan.

Pengalaman pertama naik KA sewaktu masih di Padang, waktu itu naik KA diesel dari Padang (Simpang Haru) ke Pariaman. Cukup berkesan karena sempat ditimpuk batu dan lumpur hitam dari sawah yang ditanami kangkung di daerah Sicincin. Itu sudah lama sekali, sebelum KA divisi Sumatera Barat berhenti beroperasi.

Pengalaman berikutnya terjadi sekitar tahun 2003-2005. Pertama naik KA Cirebon dari Gambir ke Cirebon (pp) menghadiri pesta pernikahan seorang teman. Kemudian dari Cawang ke Depok (pp) juga, ke rumah sodara, dari Cawang ke Lenteng Agung, dari Pondok Kopi ke Bekasi. Kemudian naik KA Jatinegara - Semarang (siang hari). Semuanya naik KA ekonomi, sehingga merasakan bagaimana berdesakan dalam gerbong yang pengap, atau pengamen dan berjejalnya pedagang asongan dalam KA, berhenti 15-30 menit untuk menunggu KA eksekutif lewat.

Pada suatu kesempatan di tahun 2005, saya ditugaskan ke Jepang oleh perusahaan selama seminggu. Alhamdulillah, saya sempat mencoba KRL non AC dari sebuah kota kecil ke Okayama, Shinkansen dari Okayama ke Nagoya di Jepang, dan KRL AC dari pusat kota Nagoya ke pinggiran kota Nagoya. Walaupun sudah banyak membaca profil kereta cepat Jepang itu, saya masih kagum, terutama pada keseriusan pemerintah Jepang mengurus kereta apinya. Mulai dari sistem pertiketan, kondisi stasiun, kondisi gerbong, aksesibilitas dari stasiun ke moda transportasi lain, semuanya benar-benar diperhatikan dengan baik, semuanya berjalan efisien.

Standar pelayanan yang baik dan manusiawi, dan kedisiplinan KA dan penggunanya membuat pengalaman menggunakan KA di Jepang jadi menyenangkan.

Standar pelayanan yang baik dan kedisiplinan KA dan penggunanya inilah yang di negara kita ini masih jauh dari harapan, dari sisi kenyamanan, keamanan, dan ketepatan waktu.

Dari sisi penyedia jasa, yaitu PT KAI, KA masih sering tidak tepat waktu, telat 15 menit sampai 30 menit dianggap biasa. Belum lagi sarana dan prasana di stasiun, pertiketan, yang bahkan dari bus transjakarta saja yang baru dibikin 2 tahun lalu kalah jauh.

Dari sisi pengguna juga masih banyak yang perlu diperbaiki. Kesadaran untuk selalu membeli tiket, tidak naik ke atap gerbong atau kabin masinis, masih sering dilanggar. Saya sendiri juga sudah pernah mencoba naik di kabin masinis KA Langsam dengan membayar ekstra 1000-2000 rupiah, atau pas telat di stasiun dan gak sempat beli karcis, ternyata nyelipin 2000-3000an rupiah di KRL AC Ciujung bisa juga, atau dapat kesempatan naik KA Express yang lagi ngetem di Palmerah dengan cuma bayar 2000-3000 rupiah (sempat heran, nafa juga orang pada naik KA express padahal tiketnya gak dijual di Sta. Palmerah). Kejadian ini jarang sekali, dan mudah-mudahan saya tidak perlu menghadapi situasi itu lagi. Tapi naik ke atap memang sama sekali gak pernah kepikiran, mending naik ojek deh..

Masinis KA juga sangat "toleran". Dari beberapa kali naik di kabin masinis (biasanya KA langsam pagi pertama dari Rangkas), saya pernah melihat bagaimana seorang pedagang/pembawa sayur sewaktu di stasiun Kebayoran mengulurkan selembar 10000 ke masinis sambil berpesan: "bos, tolong nanti di Palmerah dilama-in, banyak barang yang mau diturunkan".

Memang saya termasuk baru rutin naik KA Jabotabek ini. Tapi dari pengamatan sempit selama ini, saya simpulkan bahwa penggunaan dan pelayanan KA di Jabotabek masih dapat ditingkatkan lagi.
  1. Integrasi dengan moda transportasi lain. Selama ini sepertinya PT KAI bergerak sendiri, tanpa berhubungan dengan Pemda masing-masing daerah, dan atau pemerintah pusat. Sehingga aksesibilitas ke dan dari stasiun KA tidak "nyambung" dengan baik dengan moda transportasi lain seperti kualitas jalan, tersedianya bus angkutan umum yang memadai dekat stasiun, integrasi dengan bus transjakarta, apalagi ketersediaan sarana parkir yang memadai bagi penumpang luar Jakarta (Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor) di stasiun terdekat. Coba dilihat berapa banyak stasiun KA yang mempunyai jalan akses yang berkualitas dan cukup lebar, dan sarana parkir yang memadai. Bandingkan dengan bus transjakarta yang selain dibuatkan jalur khusus beton, juga dibuatkan sarana parkir untuk pengguna.
  2. Sistem pertiketan. Melihat model pertiketan di bus transjakarta yang memungkinkan kebocoran bisa ditekan sampai nol, harusnya bisa juga diterapkan di KA Jabotabek. Artinya masyarakat Indonesia sebenarnya sudah siap (atau terpaksa) dengan sistem pertiketan yang efisien dan sistem yang memaksa penumpang (dan penyedia) untuk disiplin. Memang akan ada perbedaan dibanding penerapannya di sistem bus transjakarta, tapi solusi tiket elektronik yang sempat digunakan di jalur Serpong-Tanah Abang saya rasa bukan solusi yang pas. Diperlukan pembenahan stasiun, penambahan rit / kapasitas, dan sosialisasi yang lebih baik ke masyarakat sebelum suatu sistem pertiketan yang lebih baik diterapkan.
  3. Jumlah armada / gerbong. Menilik melubernya penumpang di pintu, sampai ke atap, terutama untuk KA diesel/ KRL ekonomi, sudah selayaknya ditambah jumlah gerbong/rit sehingga penumpang tidak punya alasan lagi untuk membahayakan diri mereka sendiri dengan memaksakan naik bergelantungan di pintu, diantara gerbong, di lokomotif, atau di atap.
  4. Sistem komunikasi antar stasiun, dan dengan KA yang sedang berjalan juga perlu dibenahi.
Semua hal diatas membutuhkan dana yang besar, tapi kalau dihitung dan dibandingkan dengan efisiensi waktu, penggunaan BBM, kelancaran transportasi, seharusnya sepadan, dengan hasil yang memberi sarana transportasi yang aman, nyaman, tepat waktu bagi masyarakat banyak. Bandingkan dengan pemborosan BBM dan waktu yang tiap hari terjadi di setiap kemacetan di jalan masuk Jakarta setiap pagi dan sore.

Bus transjakarta yang dibuat pemda DKI untuk menjangkau seluruh wilayah Jakarta akan lebih efektif jika didukung oleh sarana KA yang memadai dari daerah sekitar Jakarta untuk mengurangi arus kendaraan dari daerah sekitar Jakarta. Jadi sudah seharusnya Pemda DKI, pemda Bodetabek, dan pemerintah pusat bersinergi mengoptimalkan sistem transportasi di Jabodetabek ini, sehingga sukses dan bisa menjadi model bagi pengembangan sistem transportasi di kota-kota lain di Indonesia.

Harga Minyak Bumi yang sampai November 2007 ini hampir mendekati 100 USD per barrel harusnya mendorong pemerintah pusat, pemda DKI dan Bodetabek lebih serius dan fokus menyelesaikan sistem, sarana dan prasarana transportasi di Jabodetabek dengan segera, agar tidak ada lagi waktu dan BBM yang tersia-sia akibat kemacetan. Belum lagi efek ikutan seperti naiknya biaya hidup (karena biaya transportasi manusia dan distribusi barang), masyarakat yang depresi, dll akibat kemacetan yang berlarut-larut. Ujung-ujungnya penyesuaian gaji setiap tahun tidak pernah mencukupi karena kenaikan biaya hidup selalu melebihi penyesuaian gaji yang bisa disediakan perusahaan.

Saya memang belum melihat bagaimana kondisi dan hitung-hitungan ekonomis untuk KA Jabotabek ini, cuma asumsi sekilas bahwa seharusnya bisnis KA Jabotabek bukanlah bisnis merugi, dengan jutaan orang yang keluar masuk Jakarta setiap harinya sebagai pangsa pasar utama, dengan beroperasi yang efektif dan efisien, KA bisa beroperasi dengan sehat dengan tetap memberikan standar pelayanan yang prima bagi masyarakat.


Sumber foto:
http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/03/30/kereta-api-gila/
http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=18249&section=94
koleksi pribadi


4 komentar:

Hasbinur mengatakan...

kirain hasil foto sendiri. pengen juga punya foto beberapa jenis transportasi di Jakarta, tapi ngeliat kondisinya kayaknya susah kalo motret sendiri seperti kereta diatas, takut digebukin :-)

quantan mengatakan...

Waktu kepikiran menulis ini, kamera satu-satunya lagi rusak. Jadi terpaksa bongkar koleksi lama + google-image yang bantuin.. :-)

Harusnya gak masalah motret kondisi KA, realitanya begitu koq.

Anonim mengatakan...

Inisiatif, mungkin hal ini yang kurang dari para pemimpin di negeri ini. Karena mereka tidak menggunakan kereta untuk transportasi sehari-hari jadi tidak ada inisiatif untuk memperbaikinya. Biasanya inisiatif timbul kalau ada kepentingan untuk diri sendiri saja. Sebetulnya "kepentingan" untuk membangkitkan inisiatif itu ada, namun hampir seluruh pemimpin bangsa ini melupakannya, yaitu "kepentingan untuk memajukan bangsa".

Asfarrizcky

quantan mengatakan...

Sebenarnya pemimpin tidak harus naik kereta atau angkutan umum untuk memahami kesulitan rakyat dalam transportasi. Semuanya terlalu kasat mata, hanya orang buta atau orang pandirlah yang tidak tau.

Memang alasan masalah "kepentingan" adalah hal yang paling masuk akal.
Karena alasan lainnya hanyalah pemimpin kita dan orang-orangnya adalah orang-orang pandir setelah masuk istana, jelas ini tidak masuk akal.

Perbaikan dimulai dari hal-hal kecil. Kaizen.