Sabtu, Februari 23, 2008

Gnome vs KDE

Setelah menggunakan linux (Fedora 5,6,7,8) sebagai PC utama di kantor sehari-hari sejak Januari 2007, dengan menggunakan desktop KDE, disusul kemudian di rumah menggunakan Kubuntu 7.04/7.10, cukup rasanya pengalaman menggunakan KDE untuk aktifitas harian. Bulan Februari ini mulai intensif menggunakan Ubuntu 7.10 dengan Gnome-nya.

Beberapa kesan:
  • Software pendukung di KDE lebih banyak dari pada di Gnome. Ini dari yang terlihat di repository Ubuntu dan Fedora.
  • Secara umum Gnome lebih stabil, sedangkan aplikasi do desktop KDE sering crash walaupun cuma saat mau di tutup.
  • Mengingat ketersediaan aplikasi di repository tiap distro, adalah hampir tidak mungkin untuk hanya memasang Gnome atau KDE saja dalam keperluan sehari-hari, mengingat banyak aplikasi yang terkait dengan library Gnome atau library KDE ini. Jadi walau menggunakan Gnome, library KDE tetap ikut dipasang karena ada aplikasi / utilitas yang membutuhkan, begitu juga sebaliknya.
  • Masalah kosmetik, baik Gnome atau KDE sangat relatif karena tergantung selera masing-masing. Bagi saya keduanya sama menariknya dengan kelebihan masing-masing.
  • Mengingat komputer yang digunakan di rumah mempunyai RAM 1.5 GB dengan AMD Athlon 1800+ dan di kantor 2 GB dengan Intel Core2Duo, maka saya tidak bisa berkomentar masalah ringan atau beratnya KDE dan Gnome. Terasa sama saja.
  • Konfigurasi standar KDE terlalu sederhana, sedangkan konfigurasi standar Gnome sudah memadai untuk user non-IT.

Tidak ada komentar: