Kamis, Maret 06, 2008

Biaya Pendidikan dan Standar Gaji

Biaya pendidikan, seperti yang kita tahu sekarang ini, makin lama makin tinggi. Waktu saya kuliah di sebuah PTN luar Jawa tahun 1994 sampai tamat tahun 2000 (lama juga ya..) saya membayar uang semester sebesar Rp. 210.000 per semester. Itu rasanya sudah cukup berat bagi orang tua saya yang guru SD. Pada saat yang sama, perguruan tinggi swasta yang sedikit bagus sudah mematok uang semesteran mulai dari 1 juta rupiah, dan naik terus tergantung fakultas dan jurusannya.

Sekitar tahun 2002-2003, uang bulanan siswa SMA negeri di Jakarta sudah diatas Rp. 60.000,-. Pada tahun yang sama biaya kuliah sudah mencapai jutaan, belasan juta, sampai ratusan juta rupiah, tergantung institusi pendidikan dan jurusannya.

Pada tahun 2003 juga, UMR Bekasi sekitar 600 ribu rupiah. UMR berlaku untuk lulusan sekolah lanjutan tingkat atas seperti SMA dan SMK. Untuk lulusan sarjana / diploma, biasanya memperoleh pendapatan mulai 2x sampai 5x UMR (pembandingan terhadap UMR ini hanya bikinan saya).

Apakah bisa diambil hubungan antara biaya pendidikan dan standar gaji?
Faktanya, laju kenaikan biaya pendidikan lebih tinggi dibanding dengan laju kenaikan pendapatan. Apalagi kenaikan biaya pendidikan biasanya juga dibarengi oleh kenaikan biaya hidup lainnya sehingga efeknya menjadi berlipat ke pengeluaran.

Sebuah skenario:
Si Amir bersekolah di sekolah dasar Islam terpadu yang uang masuknya 10 juta rupiah dan uang bulanannya 400 ribu rupiah. Kemudian masuk SMP yang uang bulanannya 600 ribu rupiah. Kemudian masuk SMA dengan uang bulannya 800.000 rupiah. Setelah itu kuliah dengan uang semester 20 juta rupiah.

Setelah tamat, si Amir bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah perusahaan swasta dengan gaji sebesar 2.5 juta sebulan.

Bagaimanakah hubungan idealnya?

Tidak ada komentar: