Jumat, April 04, 2008

Pengembangan SDM: Sarjana, Pengalaman Berkualitas, dan Pelatihan Berkelanjutan

Guru SD minimal harus Sarjana, strata 1 (S1). Manajer di Perusahaan sebaiknya lulusan strata 2 (S2). bla..bra..bla..

Tahun 2005 lalu, ketika terjadi beberapa masalah kualitas SDM di level staf dan supervisor internal perusahaan tempat saya bekerja, saya mengatakan kepada atasan yang orang Jepang, bahwa untuk jadi supervisor, sebaiknya harus sarjana, dan sebaiknya S1. Waktu itu ada beberapa kasus supervisor baru yang hanya punya ijazah SMU/sederajat tetapi sudah bekerja lebih dari 8-10 tahun, ternyata tidak memperlihatkan kinerja seperti yang diharapkan. Salah satu argumen saya, mereka tidak biasa bekerja secara sistematis, tidak menguasai teknik analisa dan pemecahan masalah secara ilimiah terstruktur. Alasan lainnya, kesesuaian bidang studi yang memungkinkan seorang supervisor bisa lebih efektif dalam bekerja.

Kesemua alasan diatas ditolak oleh atasan saya tersebut. Menurutnya, pengalaman kerja dan training/pelatihan yang memadai sudah cukup untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi karyawan yang bersangkutan. Dan hal seperti itu sudah lama dipraktekkan di Jepang, minimal di kalangan afiliasi perusahaan di Jepang, dan hasilnya terbukti bagus.

Lalu kenapa kenyataannya bisa tidak seperti itu di Indonesia? Khususnya yang dilakukan di internal perusahaan untuk Indonesia.

Diluar itu, sejak beberapa tahun lalu, departemen pendidikan nasional (depdiknas) sudah memfasilitasi peningkatan mutu guru khususnya guru sekolah dasar dengan berbagai pelatihan, dan program universitas terbuka untuk mendapatkan kualifikasi setara DII.
Kemudian standar ini ditingkatkan lagi menjadi sertifikasi dengan standar Sarjana S1 akhir-akhir ini, ditambah dengan insentif untuk guru yang sudah mendapatkan bersertifikasi.

Lalu sibuklah guru-guru Sekolah Dasar yang umumnya lulusan Sekolah Pendidikan Guru (setara SMU), sebagian ada yang sudah ditingkatkan menjadi DII seperti lulusan PGSD atau yang sudah ikut penyetaraan DII lewat universitas terbuka. Mereka semua sibuk untuk kuliah lagi, mendapatkan gelar sarjana S1.

Apakah semudah itu? Guru SD yang lulusan SPG dan atau yang sudah menyelesaikan DII lewat Universitas Terbuka biasanya sudah berumur lebih dari 40 tahun, karena SPG sudah ditutup sejak tahun 1990-an. Nyatanya banyak juga yang mengeluh, dan tak berharap lagi mendapatkan sertifikasi yang akan menaikkan pendapatan mereka, sehingga lebih sejahtera dan mudah-mudahan bisa lebih fokus ke tugas pendidikan dan pengajarannya.

Terlepas dari kualitas perkuliahan ekstra para guru untuk mendapatkan D2 atau S1, pertanyaannya adalah, mengapa pengalaman mengajar puluhan tahun tidak membuat para guru ini bisa berkualifikasi lebih tinggi sampai sarjana?
Karena guru juga mengikuti sistem jabatan dan kepangkatan pegawai negeri, apakah kenaikan pangkat tidak diikuti oleh kenaikan level kualifikasi dan kompetensi yang diperlukan sehingga layak dapat sertifikasi?

Kedua orang tua saya adalah guru SD, beberapa tahun lagi juga akan pensiun. Alhamdulillah saat ini sudah menjadi kepala sekolah dan tentunya golongan dan kepangkatannya sudah disesuaikan. Saudara sepupu saya juga banyak yang jadi guru SD dan SMP, bahkan istri saya saat ini juga menjadi guru SD setelah sebelumnya menjadi staf PPIC di sebuah perusahaan asing.
Hanya saya dan adik-adik yang tidak satupun mengikuti jejak orang tua saya secara formal berprofesi sebagai guru.
Memang dewasa ini ada peningkatan input, mereka guru-guru yang direkrut setelah tahun 2000-an ini rata-rata sudah lulusan pendidikan S1, bahkan lulusan perguruan tinggi pendidikan, walaupun untuk tingkat guru sekolah dasar.

Saya tidak membahas masalah training need analysis, matrix competency, pengukuran efektivitas training, dsb karena itu bukan domain saya, biarlah orang-orang personalia/SDM yang mengurusnya.

Saya hanya percaya, jika pengalaman kerja yang berkualitas, sistem dan jenjang pelatihan yang didisain dan dilaksanakan secara konsisten, akan meningkatkan kualitas SDM sesuai yang diinginkan institusi tempatnya bernaung.

Saya juga percaya, menjadi supervisor, menjadi atasan, adalah juga menjadi guru, menjadi mentor untuk orang-orang yang disupervisinya. Terlepas seseorang itu sarjana, magister, atau hanya lulusan SMA, pengalaman kerja, training, dan pengalaman hidup yang berkualitas yang menjadikannya layak mendapat "sertifikasi". "Sertifikasi" untuk menjadi mentor, menjabat suatu jabatan, mendapat kenaikan pangkat, atau semua yang membuat dia layak mendapat kenaikan pendapatan.

Tidak ada komentar: