Selasa, September 02, 2008

Bermaaf-maafan, Ramadhan di Indonesia

Setiap akan masuk Ramadhan, "hadits" tanpa status dan riwayat seperti berikut sering beredar di antara kita:

Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan:
" Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
* Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;
* Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya".
Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.

Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin, Lc begitu membaca "hadits" ini langsung mengatakan hadits palsu.

Ada beberapa tradisi berkaitan dengan Ramadhan (dan Syawal) di Indonesia, yaitu:
  • Bermaafan
  • Nyekar (Ziarah kubur)
  • Mudik
Ketiga tradisi/kebiasaan diatas tidak ada syariatnya sehubungan dengan Ramadhan, tetapi banyak dilakukan di Indonesia. Di beberapa daerah ada lagi tradisi mandi besar sebelum Ramadhan dengan alasan untuk mensucikan tubuh, sayangnya tradisi ini dilakukan dengan menabrak banyak syariat Islam lainnya, seperti menampakkan aurat kepada non-muhrim, berkumpulnya laki-laki dan perempuan bukan muhrim tanpa hijab.

Bermaaf-maafan dalam syariat Islam tidak dihubungkan dengan Ramadhan, waktu akan masuk bulan Ramadhan ataupun di awal bulan Syawal. Bermaaf-maafan adalah sikap dan adab sepanjang hayat, diantaranya terbentuk melalui silaturahim.

Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.:
Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak mau menyapa) saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 4643

Bermaaf-maafan mempunyai konteks. Ada jelas kesalahan yang telah dilakukan dan disebutkan, atau terjadi berurutan.

Tidak ada komentar: