Rabu, November 05, 2008

Transfer Teknologi? Cerita Setengah Hati..

Kata-kata "Transfer Teknologi" sudah biasa terdengar sejak jaman Orde Baru (ORBA). Sudah hampir menjadi mantera untuk setiap investasi yang masuk ke Indonesia, untuk pembelian barang-barang tertentu, untuk bantuan ekonomi dan kerjasama lainnya.

Setelah 10 tahun orba berakhir, nyatanya negara kita masih pengguna teknologi, paling tinggi jadi tukang jahit tulen; benar-benar menjahit hasil desain orang lain. Usaha paling tinggi adalah membeli paten asing yang katanya akan jadi dasar bagi teknologi Indonesia berikutnya.

Apa iya transfer teknologi terjadi karena menggunakan, karena memasang, atau karena membeli? Terlalu sempit, dan harusnya tidak perlu diberitakan karena itu hal yang wajar jika membeli produk teknologi dari luar negeri.

Dari semua investasi industri asing, berapa persen yang serius membuat bagian Research and Development (R&D)?

R&D terbagi atas R&D produk dan R&D atas teknologi produksi/pemesinan. R&D bisa bernama Engineering Center, atau Production Engineering Center, bisa juga disebut pusat teknologi. Berapa banyak para ahli Indonesia yang terlibat dalam pembuatan produk industri mulai dari desain sampai di rilis ke pasar?

Kenapa banyak industri lebih memilih India, China, Israel, sebagai lokasi bagian R&D-nya? Kenapa bukan Indonesia yang juga sekaligus menjadi potensi pasar yang besar?

Transfer teknologi cuma cerita basi di Indonesia.

Tidak ada komentar: