Senin, Januari 19, 2009

Belajar Hidup di Kawasan Banjir

Tahun 2001-2003 dahulu, banjir masih bisa diidentikkan dengan kawasan-kawasan tertentu di Jakarta dan sekitarnya. Biasanya seputar kawasan pinggir sungai yang melintasi Jabotabek, seperti Ciliwung (Bogor-Depok-Jakarta), Cisadane (Tangerang), Citarum (Karawang-Bekasi). Namun sejak tahun 2007 lalu, banjir sudah mencapai banyak lokasi, sampai ke kompleks perumahan-perumahan baru pun tak luput dari genangan banjir ini. Walhasil, banjir Jakarta 2007 merendam hampir 60% wilayah DKI (versi WALHI mencapai 70%).

Tidak semua banjir disebabkan oleh besarnya volume air dari sungai-sungai yang ada, banyak juga banjir yang terjadi karena buruknya saluran air di kawasan tersebut, sehingga daerah yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran, akhirnya ikut kebanjiran.

Memang sudah ada upaya pemerintah, khususnya pemda DKI Jakarta untuk mengatasi hal ini, seperti Banjir Kanal Timur (BKT) yang ditargetkan dapat membebaskan 35% kawasan menjadi bebas banjir. BKT ini ditargetkan selesai tahun 2009.

Dalam penantian solusi yang lebih mendasar untuk masalah banjir ini, mungkin sudah saatnya warga Jabodetabek merancang hidupnya untuk "berdamai" dengan banjir, persis seperti warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung, sepanjang Bidaracina sampai Kampung Melayu.

Berdasarkan pengalaman saya tinggal selama lebih kurang 4 tahun di Cawang-Bidaracina, ciri-ciri banjir di Jakarta:
  • Ketinggian rata-rata 1 meter, walaupun di beberapa tempat rendah bisa mencapai lebih dari 2 meter.
  • Lama banjir, selama ini berkisar sampai 3 hari.
  • Air banjir membawa lumpur dan sampah.
  • Banjir di kawasan pinggiran sungai bisa ada arus, banjir di perumahan hanya berupa penggenangan.
Berikut beberapa saran untuk "berdamai" dengan banjir :
  • Usahakan ada lantai yang tidak terkena banjir. Kalau lantai 1 selalu kebanjiran, usahakan ada lantai 2 dengan luas yang cukup untuk menampung perabot dan logistik, minimal bisa untuk ditinggali sampai 3 hari. Juga disediakan sarana penerangan (lampu darurat, lilin).
  • Beli perabot yang relatif tahan air, saya lihat tetangga saya menggunakan set meja makan dari pualam yang berat tapi mudah dibersihkan.
  • Lantai rumah minimal ubin keramik.
  • Minimal dipasang satu baris ubin dibagian dinding terbawah (dekat lantai) untuk memudahkan pembersihan lantai dan dinding.
  • Pastikan jalur listrik untuk lantai 1 dan lantai 2 dipisah, dengan circuit breaker (CB) masing-masing (ini harusnya sudah standar instalasi listrik).
  • Usahakan untuk mempunyai tanki air reservoir yang cukup di atas lantai 2. Ini sangat membantu untuk pasokan air selama banjir dan masa pembersihan, ukuran 1-2 meter kubik, tergantung besarnya rumah dan banyaknya penghuni.
  • Kalau menggunakan pompa air, usahkan menggunakan pompa air yang mudah di perbaiki jika terendam, lebih baik lagi jika menggunakan pompa air yang tahan rendam (jika ada).
  • Hindari penggunaan papan tripleks / multipleks ataupun papan dari kayu olahan.
Mudah-mudahan banjir ini tidak sampai menjadi bagian kehidupan warga Jakarta.

Tidak ada komentar: