Senin, Juli 26, 2010

Halte Tol

Halte tol, kedengarannya membingungkan, ya? Ini ide saya, muncul setelah setiap hari melewati pintu tol Pondok Gede Timur (Jati Bening). Juga karena bus Agramas dari Tangerang yang lewat tol BSD ke Bekasi Timur dan Cikarang, dengan efektif menaikkan dan menurunkan penumpang di pintu tol Jati Asih dan pintu tol Veteran Bintaro/Tanah Kusir.

Apa ini cara melegalkan berhenti dan menaik-turunkan penumpang di tol?
Sederhananya memang begitu, khusus untuk pengguna angkutan umum. Karena kebutuhan dan kepraktisan (efisiensi dan efektifitas), ada kebutuhan untuk berganti kendaraan di jalan tol.

Kebutuhan yang kasat mata adalah seperti di pintu tol Jati Bening/Pondok Gede Timur. Penumpang bisa berganti bis, naik/turun bis di area pemberhentian tol ini. Diluar keperluan warga sekitar tol yang memang pastinya jauh lebih mudah dan murah dengan naik turun dari pintu tol Pondok Gede Timur ini, warga yang akan pindah bus juga dimudahkan. Misalnya, kalau dari Cikarang mau ke Tanjung Priok, cukup naik bis apa saja yang mau ke pintu tol Jati bening, kemudian bersambung naik bus dari Bekasi Timur/Barat yang ke arah Tanjung Priok. Jadi, semacam terminal dalam skala kecil.

Termasuk yang secara samar adalah berganti kendaraan di Tempat Instirahat (TI) tol / rest area, yang kadang juga saya lakukan jika berganti kendaraan dari bus Agramas ke Cibitung (terminal Cikarang) ke bus Mayasari AC yang langsung ke pintu tol Cikarang/Jababeka.


Halte Tol
DKI Jakarta dan kota pendukung di sekelilingnya, Jabodetabek, sudah memiliki beberapa moda transportasi umum:
  1. Jaringan Jalan Tol, Tol Dalam Kota dan Tol Lingkar.
  2. Jaringan Rel Kereta, dan Rel Kereta Listrik.
  3. Jaringan bus Khusus TransJakarta.
  4. Jaringan bus khusus dari beberapa lokasi perumahan di sekeliling Jakarta, seperti TransBSD, TransBintaro, Lippo Cikarang, Lippo Karawaci, Perumahan Citraraya Cibubur, Citraraya Tangerang, Alam Sutera, dll.
  5. Jaringan bus umum Ke/Dari Jakarta - Daerah Pendukung Sekitarnya.
  6. Jaringan bus Umum InterJabotabek.
Khusus nomor 1 adalah jaringan jalan saja, sementara kalau jaringan rel kereta, sudah ada lengkap dengan keretanya. Selain itu, selain item no 1, semuanya ada Pool/stasiun/terminalnya.

Halte tol saya bayangkan terdapat di jaringan tol lingkar Jakarta, jadi bukan tol dalam kota. Halte tol lebih relevan dibanding terminal karena target waktu singgahnya sangat singkat, dan bus yang boleh menaikkan dan menurunkan terbatas trayek Inter Jabotabek saja. Jadi halte tol merupakan salah satu titik singgung / titik transfer penumpang antar jaringan transportasi di Jabodetabek. Dengan demikian kecepatan, kemudahan akses, dan keamanan penumpang bisa di jaga lebih mudah.

Sesungguhnya pintu tol Veteran (Bintaro-Tanah Kusir) dan pintu tol Pondok Gede Timur (Jati Bening) sudah sama seperti halte tol ini, walaupun kadang terlihat juga bus AKAP non-Jabodetabek disana.

Ke enam Jaringan moda transportasi di Jakarta yang sudah ada sekarang mempunyai satu masalah mendasar, tidak adanya hub-penghubung antar moda yang memadai. Jadi praktis setiap jaringan berjalan sendiri-sendiri. Padahal kala dibuat titik-titik transfer yang memadai antar moda di titik-titik singgung antar jaringan yang pas, maka akan tercipta harmoni jaringan transportasi Jabodetabek, yang menciptakan kemudahan transportasi manusia di Jabodetabek.

Titik transfer antar moda transportasi termasuk termasuk transfer penumpang dari kendaraan pribadi ke jaringan kendaraan umum.

Penutup

Halte tol hanyalah salah satu ide untuk menghubungkan beberapa moda transportasi di Jabotabek. Banyak lagi cara lain untuk menghubungkan antar moda transportasi dengan efektif. Termasuk mengatur trayek angkot dan melebarkan jalan akses di titik singgung antar moda, seperti arah ke stasiun Kereta.

Optimalisasi dan integrasi jaringan transportasi yang ada saja sudah akan memberi dampak besar dalam mereduksi kemacetan. Rencana seperti ini lebih mudah dijangkau dengan hasil yang bisa dilihat segera. Tentu saja akan lebih baik lagi kalau ditambah dengan pembangunan moda transportasi baru.

Kemacetan di Jakarta sudah menjadi masalah keseharian, termasuk di hari libur/akhir pekan sekalipun. Milyaran, mungkin triliyunan rupiah subsidi BBM terbuang percuma menjadi asap dalam kemacetan Jabodetabek, itu diluar waktu yang terbuang dan biaya kesehatan fisik dan jiwa masyarakat. Jika pemda DKI, pemda Bodetabek, kementrian perhubungan, kementrian keuangan, dll, semuanya merasa bukan tanggung jawabnya mengatasi kemacetan Jakarta, jika tak ada di negara ini yang merasa bertanggungjawab menyelesaikan kemacetan di Jabodetabek, maka berarti itu tanggungjawabnya Presiden.

* Dari Akhir 2007-Juni 2010, saya pengguna setia KRL(eko-ac-express) dan KRD jurusan Palmerah-Serpong/Rangkas, setiap hari kerja, kadang hari libur/akhir pekan juga.
* Sering menggunakan bus Agramas jurusan Tangerang-Cikarang/Bekasi Timur via veteran Bintaro.

Tidak ada komentar: