Senin, September 19, 2011

Pohon Penghijauan Yang Efektif

Tema hijau, teduh, alami, sudah mulai menjadi tema lingkungan perumahan di sekitar Jabodetabek. Beragam model penerapannya, mulai dari selektif dalam menebang pohon yang sudah ada sebelum rumah dibangun, penanaman bibit baru, sampai penanaman pohon besar yang dipindah dari lokasi lain.

Bagaimana efektifitasnya?

Kenapa Jakarta berasa tambah panas walaupun dinas pertamanan Jakarta mengklaim Jakarta masih hijau, buktinya jika dilihat dari udara (pake google map saja, ndak usah naik helikopter segala), hijauan masih mendominasi area Jakarta. Selain berkurangnya muka tanah yang terbuka karena ditutupi aspal dan beton, banyaknya gedung tinggi tanpa area taman yang memadai, juga ada pengaruh berkurangnya efektifitas pohon pelindung yang ada. Kebanyakan daerah perumahan hanya mau membuat pohon pelindungnya tidak lebih tinggi dari gentengnya, karena alasan batang kurang kuat (bisa roboh diterpa angin kencang), tidak suka dengan sampah dedaunannya. ataupun ketidaksadaran/tidak berorientasi lingkungan dan lebih mengandalkan kerja keras alat pendingin ruangan.

Tajuk pohon yang lebar dan dengan ketinggian yang memadai terbukti berpengaruh terhadap suhu area dibawahnya. Tajuk yang lebar efektif menahan sinar matahari dan menjaga kelembaban tanah. Sementara ketinggian yang cukup, yakni kira-kira sedikit lebih tinggi daripada tiang jaringan PLN, cukup efektif menangkap angin dan membawanya ke ruang yang lebih rendah.


Foto diatas diambil di daerah Cilangkap, komplek Hankam, September 2011. Pohon rambutan setinggi seperti di gambar hanya mungkin terjadi jika ditanam menggunakan biji, bukan metode cangkok/stek, dsb. Metode cangkok memang membuat tanaman cepat berbuah, tetapi batang yang didapat kurang kokoh, perakaran juga kurang kuat, dan tinggi tidak maksimal.


Foto ini di daerah Tarum Barat Jababeka, September 2011. Tajuk pohon angsana yang cukup tinggi di tengah hari cukup efektif menahan panas, minimal aspal jalanan tak menyerap panas yang bisa membuat suhu di lingkungan sekitarnya naik beberapa derajat. Sayangnya penghijauan ini hanya ada di jalan utama saja, tidak diterapkan secara total dalam kawasan perumahan.

Penghijauan dengan persyaratan seperti ini lebih efektif dalam menurunkan suhu area ruang disekitarnya, sehingga otomatis juga akan menghemat energi karena usaha yang dibutuhkan alat pendingin ruangan lebih rendah untuk mencapai suhu yang diinginkan.

Pohon yang cepat untuk mencapai ketinggian rindang efektif ini sepertinya baru jenis angsana saja. Terbukti mudah tumbuh di tanah bekas galian/urugan. Mungkin bisa diatur sebagai vegetasi perintis untuk daerah perumahan/perkantoran/jalanan baru, dengan disisipi pohon-pohon buah yang diinginkan di sela-selanya sehingga pada waktunya pohon buah ini cukup tinggi, pohon angsananya dapat di tebang.

Kenapa pohon buah? Pepohonan vegetasi  "perintis" seperti Bintaro dan Angsana memang cukup tangguh untuk tumbuh di bekas tanah galian sekalipun. Tapi karena minimnya buah dan bunga yang bisa dikonsumsi serangga, burung dan hewan lainnya, membuat kembalinya ekosistem minimal menjadi sulit. Kalau pohon buah, akan banyak serangga, ulat, burung, dan hewan lainnya dalam satu rantai makanan sehingga ekosistem minimal sudah hidup lagi.

Apa pentingnya ekosistem seperti ini di lingkungan perkotaan atau jalan tol? Hmm.. selama ini manusia dengan mudahnya menggusur burung-burung dan satwa lainnya hanya dengan melenyapkan ekosistem yang menunjang hidup mereka, bahkan sudah sampai ke desa-desa.  Jadi ini masalah konservasi dan kesinambungan alam.

Mari kita hijaukan lingkungan kita dengan lebih efektif.  Pastikan pohon yang ditanam mempunyai kemampuan untuk tumbuh tinggi dan bertajuk lebar. Bersabarlah dalam menunggu buahnya.