Selasa, Februari 12, 2013

Lagi Tentang Mengemudi yang Ekonomis

Mengemudi yang Ekonomis bukan hanya soal bagaimana mendapatkan konsumsi BBM yang efisien. Mengemudi yang ekonomis berarti juga lebih selamat, karena tidak mungkin mengemudi irit jika cara mengemudinya agresif. Juga berarti lebih aman bagi lingkungan dan ekosistem karena pollutan yang dikeluarkan kendaraan lebih terkendali minimum.

Beberapa yang saya coba terapkan:

  • Jaga kecepatan, tidak menambah kecepatan atau mengurangi kecepatan secara tiba-tiba. Sehingga putaran mesin juga terjaga naik turunnya. Jika kondisi berkendara bisa terjaga, maka selalu tersedia jarak yang cukup untuk mengurangi kecepatan tanpa mengerem, dan menaikkan kecepatan tanpa menginjak gas terlalu dalam di jarak yang pendek.
  • Jika hal diatas diterapkan, maka putaran mesin bisa dijaga di kisaran 1500-3000 rpm, dengan perubahan yang perlahan.
  • Untuk rute Jabodetabek, selalu siap dengan koneksi twitter memantau info dari akun @tmcpoldametro dan @radioelshinta, sehingga kalau bertemu kemacetan, bisa dapat info rincinya, dan bisa memutuskan apakah akan terus dan ambil jalur mana (paling kiri, kanan), sudah berapa lama masalahnya, atau apakah akan mencari tempat istirahat sampai masalahnya selesai.
Walaupun agak sulit untuk selalu disiplin menerapkan hal-hal diatas, tetapi tetap harus ada nilai-nilai acuan untuk dipedomani sebagai standar baku.

Alhamdulillah, kondisi terbaik yang saya dapatkan di awal 2013 ini, adalah mendapatkan konsumsi BBM Nissan Grand Livina 1.5 MT di posisi 1 liter untuk 17.7 km untuk kondisi berkendara 80% tol relatif lancar, 20% non tol yang rada macet. Mudah-mudahan bisa lebih disiplin lagi dan dapat lebih irit lagi.

[Update April 2013] Berapa kilometer kita bisa berkendara dengan Nissan Grand Livina 1.5 MT sampai lampu kuning tanpa indikator BBM menyala?



Ternyata sampai 670 Km, yang diisi kembali full tumpah membutuhkan lebih kurang 42 liter BBM.


Tidak ada komentar: